Senin, 22 Juni 2009

Tips merancang Visi Hidup sukses_pribadi






oleh :daninurriyadi

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (adz-Dzaariyaat [51]: 56)
Siapa pun kita, apakah berprofesi sebagai mahasiswa, pelajar, karyawan,
pengusaha, kaum profesional, ataupun aktivis organisasi dan dakwah, tentu
membutuhkan "bahan bakar" berupa semangat dan motivasi tinggi dalam setiap
aktivitas kita. Namun tahukah Anda, bila motivasi yang kuat—bahkan sebisa
mungkin memiliki daya tahan yang lama—diawali dengan visi hidup yang benar, atau
dapat diistilahkan: "setiap orang harus punya idealisme"?
Manusia memang Allah swt. ciptakan sebagai makhluk dengan keunikan
tersendiri. Karena, tak ada dua manusia pun yang sama (identik) satu sama lain,
walapun mereka adalah saudara kembar. Meskipun ada perbedaan di tiap diri
manusia, namun langkah-langkah penentuan visi hidup sukses bisa diarahkan kepada
satu arah yang sama. Tentu saja dengan menitikberatkan pada konsep visi dengan
fikrah (pemikiran) yang Islami.
Berikut ini beberapa tips yang insya Allah bermanfaat sebagai bahan renungan
dan perbandingan dalam merancang visi hidup kita.

1. Perkuat niat kita bahwa kita terlahir dan hidup ke dunia untuk menjadi
hamba Allah swt. yang taat agar meraih ridha-Nya (lihat QS 51:56).
Dengan predikat hamba Allah inilah kita senantiasa wajib tunduk, taat, patuh,
setia, dan bertanggung jawab pelaksanaan dari perintah-Nya. Sebagaimana ikrar
kita, "Inna shalaatii, wanusukii, wa mahyaayaa wa mamaatii lillaahi rabbil-
'aalamiin" menjadi pengingat dan penguat diri kita atas keberadaan kita di dunia.
Niat hidup di dunia memang akan men-shibghah (mewarnai) tujuan hidup, dan
seterusnya akan menjadi nilai misi dan visi hidup seseorang. Bagi setiap muslim,
"warna" ridha Allah" harus dimaksimalkan, sementara "warna" syahwat dan hawa
nafsu tentu saja harus dibuang jauh-jauh. Kehancuran kaum 'Ad, Tsamud, kaumkaum
durhaka lainnya cukup menjadi bukti bagi kita bahwa niat dan perilaku
membangkang dari ketaatan pada Allah swt. bukan saja tak dapat meraih ridha-
Nya, namun juga mengakibatkan murka dan turunnya azab-Nya serta kehinaan di
dunia maupun akhirat.

2. Tentukan dan pastikan misi dan visi hidup kita, karena hal-hal tersebut
sebagai dasar kesuksesan seseorang.
Sering orang sulit membedakan mana yang termasuk misi dan mana yang
tergolong visi hidup. "Misi hidup" secara individu diartikan sebagai: kristalisasi
nilai-nilai yang diyakini kebenarannya oleh seseorang. Ini mencakup seluruh nilai

yang membentuk sifat, sikap, dan perilaku seseorang, baik nilai yang berasal dari
orang tua, keluarga, budaya, bangsa, maupun agama. Bila seseorang ditanya apa
misi hidupnya, lalu dia berkata, "Oh, saya menjalani hidup apa adanya," atau
"Bagi saya, hidup saya ini seperti air mengalir saja," jawaban seperti ini
menunjukkan ketidaktahuannya tentang misi hidup. Misi hidup memang bisa
positif dan bisa pula negatif. Tentu saja kita harus membuat misi hidup positif
yang mengandung prinsip-prinsip nilai berupa: kebaikan, kejujuran, keadilan,
kedamaian, kesetiaan, keselamatan, kesejahteraan, ketenteraman, dan
kebahagiaan.
Sementara itu, "visi hidup" lebih diibaratkan sebagai mimpi (bukan berkhayal),
karena kita membayangkan sesuatu yang masih bersifat harapan. Visi juga disebut
sebagai kemampuan melihat apa yang saat ini belum terwujud. Kita harus
membuat visi hidup sesuai dengan kemampuan dan kelebihan diri kita.

3. Buatlah misi dan hidup Anda dalam bentuk yang sederhana di satu tempat
khusus, seperti buku agenda (dairy) agar dapat meretensi (memperkuat)
memori otak dan “membakar” motivasi diri.
Buatlah misi hidup yang positif, yaitu yang memiliki nilai-nilai: spiritual, luhur,
menarik, fleksibel, jelas, dan singkat. Contoh: Misi Hidup Muhammad Fathoni,
dengan rincian sebagai berikut:
Pertanyaan Jawaban
Siapakah saya? Makhluk ciptaan Allah swt..
Mengapa saya ada di dunia? Untuk berbuat baik.
Apa keunggulan/kelebihan diri saya? Berpendidikan, ulet, dan kreatif.
Untuk siapa saya bekerja? Untuk masyarakat di sekitar saya.
Apa hasil/produk dari pekerjaan
saya?
Pemberdayaan orang lain.
Di mana saya mengerjakannya? Di dunia.
Misi hidup Muhammad Fathoni dalam satu kalimat:
"Saya adalah makhluk ciptaan Allah swt. yang berpendidikan,
ulet, dan kreatif yang bertekad untuk selalu berbuat baik dengan
cara memberdayakan masyarakat di sekitar saya."
Meskipun terkesan kaku ataupun lucu, namun ini sebagai satu cara sederhana
membuat misi hidup diri kita. Anda dapat menyempurnakannya sesuai keinginan
Anda. Di kemudian hari Anda akan rasakan sesungguhnya Anda adalah manusia
yang punya potensi "luar biasa".

4. Tentukan juga beberapa peran Anda (pekerjaan dan beberapa aktivitas) di
masyarakat. Ini merupakan langkah "menerjemahkan" misi hidup dalam
bentuk teknis.
Berikut ini contoh daftar peran Muhammad Fathoni setelah dikelompokkan dalam
peran-peran sejenis:
•Guru agama Islam
•Pembicara (Penceramah)
•Keluarga (sebagai Ayah; sebagai Suami; sebagai Anak; & sebagai Saudara)
•Warga masyarakat (di lingkungan tempat tinggal)
•Penulis buletin Jum'at
•Organisator (Pengurus koperasi; Pembina pengajian remaja)
•Pengembangan diri (Pemain bulutangkis; Membaca buku; Shalat dan ibadah
lainnya)
Anda boleh membuat daftar peran tersebut sesuai dengan kondisi yang tengah
Anda tekuni.

5. Lanjutkan dengan membuat visi peran dan rencana kerja Anda.
Anda dapat melatih memvisualisasikan visi peran Anda dengan membayangkan
bagaimana gambaran masa depan dari setiap peran Anda karyawan/wirausaha,
suami/istri, organisator, dan sebagainya setahun atau beberapa tahun mendatang
yang penuh kesuksesan.
Akhirnya, visi peran tersebut dituangkan dalam bentuk kalimat dan schedule
rencana kerja yang terukur, fleksibel, terjangkau, menarik, jelas, dan singkat.
Semoga kita bisa konsisten dengan visi awal kita dan jangan enggan untuk
mengevaluasi dan meng-up date rencana kerja Anda. Semakin seseorang
berkomitmen dengan misi-visi dan pelaksanaan kegiatan hidupnya, semakin
mempermudah tercapainya kesuksesan hidupnya. Tips di atas hanya sebagai salah
satu washilah (sarana) alternatif menuju kesuksesan yang kita idamkan. Wallahu
a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar