pendidikan

Loading...
Loading...
Loading...

Kamis, 25 Maret 2010

PERANAN KELUARGA TERHADAP PERKEMBANGAN AWAL PESERTA DIDIK

Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan sosial psikologi manusia pada proses yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst dalam Hartono dan Sunarto (2002) menyatakan bahwa perkembangan tersebut sebagai tugasyang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya, atau dengan perkataan lain perjalanan hidup manusia ditandai dengan berbagai tugas perkembangan yang harus ditempuh.
Diakui bahwa organisme manusia sangatlah kompleks, demikian pula factor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhinya (orang, obyek, situasi, dan kondisi). Kompleksnya interaksi tiap individu dengan lingkungannya akan menggambarkan banyak jenis pengalaman yang berbeda-beda yang pada gilirannya akan bisa mengubah intensitas nilai tehadap dirinya dan terhadap orang lain. Kenyataan ini semakin terasa dalam struktur masyarakat dewasa ini. Misalnya, interaksi orang tua dan anak di lingkungan keluarga, guru dan murid di sekolah, manajer dan karyawan diperusahaan, dokter dan pasien di rumah sakit, pedangan dan pembeli di pasar danlain-lain.
Seorang anak sudah melihat sejak lahir. Seorang anak sudah dapat berkomunikasi sejak lahir dengan menangis, ekspresi muka dan gerakan-gerakan. Oleh karena itu, sejak lahir sebaiknya paraorang tua diberi keterampilan untuk mengembangkan perkembangan anak, dengan membantu orang tua agar lebih tanggap dan melakukan komunikasi dengan anak.
Pengaruh keluarga terhadap perkembangan awal anak sangat penting karena disinilah awal mula dari pendidikan anak yang mana orang tua sebagai guru, anak akan mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tuanya untuk membentuk kepribadian anak.
Menurut Idris dan Jamal (1992), peranan orang tua dalam mendidik anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap, watak, keterampilan dasar seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan-santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar mematuhi peraturan, serta menanamkan kebiasaan-kebiasaanyang baik dan disiplin.
Telah perubahan sosial budaya yang terjadi dewasa ini menyebabkan perubahan dalam semua aspek kehidupan bermasyarakatan termasuk keluarga.
Hawari dalam Syamsu (2001 ; 36) mengemukakan, bahwa perubahan-perubahan yang serba cepat sebagai konsekuensi globalisasi, modernisasi, industrialisasi, dan iptek telah mengakibatkan perubahan pada nulai-nilai kehidupan sosial dan budaya. Perubahan itu antaralain pada nilai moral, etik, kaidah agama dan pendidikan anak di rumah, pergaulan dan perkawinan. Perubahan ini muncul, karena pada masyarakat terjadi pergeseran pola hidupyang semula bercorak sosial religius ke pola individual materialistis dan sekuler. Salah satu dampak perubahan itu adalah terancamnya lembaga perkawinanyang merupakan lembaga pendidikan dini bagi anak dan remaja. Dalam masyarakat modern, telah terjadi perubahan dalam cara mendidik anak dan remaja dalam keluarga. Misalnya, orang tua memberikan banyak klonggaran dan “serba boleh” (greater permissivness) kepada anak dan remaja.

BAB II
PEMBAHASAN

Erickson dalam Hamalik (2000), menyajikan suatu teori tentang lingkaran hidup (life cycle theory), tentang tingkat-tingkat perkembangan. Kehidupan adalah suatu rangkaian (sequence)dari perkembangan dan terjadinya krisis-krisis. Pada setiap tahap perkembangan tentu terjadi krisis. Penyelesaian krisis-krisis itu menentukan perkembangan berikutnya. Erikson membagi tingkat perkembangan menjadi delapan tingkatan:
1. Masa bayi sebagai landasan terbentuknya kepribadian, berkembangnya a sense of trust di dalam dirinya dan dalam hubungan dengan lingkungannya. Pada masa ini terjadi krisisyang disebutnya mistrust, yakni timbulnya rasa terpisah dari ibunya bila pemeliharannya tidak secara berkelanjutan.
2. Masa permulaan kanak-kanak di mana terjadi kematangan otot-otot yang menuju kepada nilai kemandirian (autonomous). Namun, di balik itu terdapat pula bahaya, yakni timbulnya rasa malu dan keragu-raguan.
3. Masa bermain, yakni dimulai berkembangnya inisiatif, imajinasi, bertambah luasnya komunikasi dan dorongan untuk mengetahui lingkungannya. Bahayayang timbul adalah perasaan bersalah dan kecemasan.
4. Masa sekolah, menerima pelajaran, dan senang bekerja yang disebutnya masa industri. Bahaya yang terjadi dalam tahap ini adalah timbulnya perasaan tidak sama dan infeerioritas.
5. Masa Adolesen dimana terjadi pengintegrasian identifikasi kekanak-kanakan dengan dorongan biologis, native endowment, dan kesempatan dalam peran-peran sosial. Bahayayang terjadi adalah timbulnya difusi identitas.
6. Masa dewasa muda, perkembangan intimasi dalam dirinya dan dengan orang lain. Bahaya yang timbul adalah kecemasan akan hilangnya identitasnya yang menyebabkan perasaan terisolasi.
7. Masa dewasa, ditandai dengan berkembangnya generativitas, yakni minat seseorang untuk membangun dan membimbing generasi berikutnya, tetapi dibalik itu muncul absorsi diri, yakni perasaan stagnasi.
8. Masa senescenence, menjadi orang tua, telah tercapai integritas ego, menerima tanggung jawab hidup, namun masih ada bahaya timbulnya perasaan disgust.

A. Prinsip-prinsip Perkembangan

Perkembangan individu berlangsung sepanjang hayat, dimulai sejak masa pertemuan sel ayah dengan ibu dan berakhir pada saat kematian. Perkembangan individu manusia bersifat dinamis, perubahannya kadang-kadang lambat tetapi bisa juga cepat, hanya berkenaan dengan salah satu aspek atau beberapa aspek berkembang secara serempak. Perkembangan tiapindividu juga tidak selalu sama, seorang berbeda dengan yang lainnya. Beberapa kecenderungan perkembangan yang merupakan prinsip-prinsip perkembangan menurut Nana (2005; 112):
1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (Never Ending Process). Manusia secara terus menerus berkembang / berubah yang dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya. Perkembangan berlangsung secara terus sejak masa konsepsi sampai mencapai kematangan atau masa tua.
2. Semua perkembangan saling mempengaruhi. Setiap aspek perkembangan individu, baik fisik, emosi, intelegensi maupun sosial, satu sama lainnya saling mempengaruhi. Terdapat hubungan kolerasi yang positif diantara aspek-aspek tersebut. Apabila seorang anak dalam pertumbuhan fisiknya mengalami gangguan (sering sakit-sakitan), maka diaakan mengalami kemandekan dalam perkembangan aspek lainnya, seperti kecerdasannya kurang berkembang dan mengalami kelebihan emosional.
3. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu. Perkembangan terjadi secara teratur. Setiap tahap perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya. Contohnya seorang anak harus dapat berdiri terlebih dahulu dan berjalan merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya.
4. Perkembangan belangsung dari kemampuan yang bersifat umum menuju ke yang lebih khusus, mengikuti proses diferensiasi dan integrasi. Perkembangan dimulai dengan dikuasainya kemampuan-kemampuan yang bersifat umum.
5. Sampai batas-batas tertentu perkembangan sesuatu aspek dapat dipercepat atau diperlambat. Perkembangan sesuatu aspek dapat dipercepat atau dipelambat. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan juga faktor lingkungan.
6. Pada saat-saat tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu perkembangan pria dan wanita. Pada usia 12 – 13 tahun anaka wanita lebih cepat kematangan sosial, dan moralnya dibandingkan dengan anak laki-laki. Pertumbuhan fisik laki-laki umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Laki-laki lebih kuat dalam kemampuan inteleknya, sedangkan wanita lebih kuat dalam kemampuan bahasa dan estetika atau keindahan.

B. Aspek-aspek Perkembangan

Perkembangan berkenaan dengan keseluruhan kepribadian individu, karena kepribadian individu membentuk satu kesatuan yang terintegrasi. Kesatupaduan kepribadian ini sebenarnya sukar dipisah-pisahkan, tetapi untuk sekedar membantu mempermudah mempelajari dan memahami, pembahasan aspek demi aspek biasa dilakukan.
Keluarga menurut Terkelsen dalam Hadis (1993) adalah suatu sistem sosial berskala kecil yang dibentuk oleh individu-individu yang saling berhubungan secara timbal balik dan di ikat oleh afeksi, kesetiaan serta membentuk suatu rumah tangga yang di pertahankan dalam jangka waktu yang lama.
Dengan kasih sayang dan loyalitas sebagai andalan, anggota keluarga diharapkan saling terikat dan saling berinteraksi sedemikian rupa sehingga dapat membantu perkembangan fisik maupun perkembangan kepribadian para anggotanya.
Suatu keluarga adalah bagian dari jaringan sosial yang lebih luas dan di pengaruhi oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari lingkungan masyarakat. contohnya, hubungan dan perilaku antar anggota keluarga untuk sebagian diatur oleh berbagai norma dan kebiasaan yang ada di masyarakat, dipengaruhi oleh kondisi keuangan keluarga dan dipengaruhi oleh angka perceraian, tempat tinggal dan lain-lain.
Secara sederhana kita dapat membedakan bebebrapa aspek utama kepribadian, yaitu aspek : fisik dan motorik, intelektual, sosial, bahasa, emosi, moral dan keagamaan dimana satu sama lain memiliki keterkaitan yang sangat erat yang menunjukkan keterpaduan kepribadian yang sangat erat.
Perkembangan dari setiap aspek kepribadian tidak selalu bersama-sama atau sejajar, perkembangan sesuatu aspek mungkin mendahului atau mungkin juga mengikuti aspek lainnya. Pada awal kehidupannya, yaitu pada saat dalam kandungan dan tahun-tahun pertama, perkembangan aspek fisik dan motorik sangat menonjol. Selama sembilan bulan dalam kandungan, ukuran fisik bayi berkembang dari seperdua ratus millimeter menjadi 50 cm panjangnya. Selama dua tahun pertama, bayi yang tidak berdaya pada awal kelahirannya, telah menjadi anak kecil yang bisa duduk, merangkak, berdiri, bahkan pandai berjalan dan berlari. Pertumbuhan dan perkembangan fisik terus berjalan dan loncatan lagi pada usia 13 – 16 tahun yaitu masa remaja awal.
Perkembangan aspek sosial diawali pada masa kanak-kanak (usia 3-5 tahun), agak pesat pada masa anak sekolah (usia 11-12 tahun) dan sangat pesat pada masa remaja (usia 16-18 tahun). Aspek konigtif atau intelektual perkembangannya diawali dengan perkembangan kemampuan mengamati, melihat hubungan dan memecahkan masalah sederhana, kemudian berkembang ke arah pemahaman dan pemecahan masalah sederhana, kemudian berkembang ke arah pemahaman dan pemecahan masalah yang pelik. Aspek ini berkembang pesat pada masa mulai masuk sekolah dasar (usia 6-7 tahun), berkembang koinstan selama masa belajar dan mencapai puncaknya pada masa sekolah menengah atas (usia 16-17 tahun).
Bahasa merupakan kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lambing atau symbol untuk mengungkapkan sesuatu pengertian, seperti dengan menggunakan lisan, tulisan, isyarat, bilangan, lukisan dan mimik muka.
Aspek bahasa berkembang dimulai dengan peniruan bunyi, meraba dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana, dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sanagat sederhana menuju ke bahasa yang sangat kompleks. Perkembangan bahasa sangat dipengaruhi oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal lain, “meniru” dan “mengulang” hasil yang telah didapatkan merupakan cara belajar bahasa awal.
Aspek fisiologis emosional memiliki aspek-aspek fisiologis yang mempersiapkan individu untuk menyelesaikan hal yang bersifat darurat. Seseorang dalam merespon sesuatu lebih banyak diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan-pertimbangan objektif. Akan tetapi pada saat tertentu di dalam kehidupannya, dorongan emosional banyak campur tangan dan mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya.

C. Faktor Keluarga

Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tetang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan factor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.
F.J. Brown dalam Syamsu (2000 ; 36) mengemukakan bahwa ditinjau dari sudut pandang sosiologi, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu a) dalam arti luas, keluarga meliputi semua pihak yang berhubungan darah atau keturunan yang dapat dibandingkan dengan “clan” atau marga; b) dalam arti sempit keluarga meliputi orang tua dan anak.

Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadiannya dan pengembangan ras manusia. Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis maupun sosiopsikologisnya. Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri (self-actualization).
Keluarga yang bahagia merupakan suatu hal yang sangat penting bagi perkembangan emosi para anggotanya (terutama anak). Kebahagiaan ini diperoleh apabila keluarga dapat memerankan fungsinya secara baik. Fungsi dasar keluarga adalah memberikan rasa memiliki, rasa aman, kasih sayang, dan mengembangkan hubungan yang baik di antara anggota keluarga. Secara psikososiologis keluarga berfungsi sebagai (1) pemberi rasa aman bagi anak dan anggota keluarga lainnya, (2) sumber pemenuhan kebutuhan, baik fisik maupun psikis, (3) sumber kasih sayang dan penerimaan, (4) model pola perilaku yang tepat bagi anak untuk belajar menjadi anggota masyarakat yang bak, (5) pemberi bimbingan bagi pengembangan perilaku yang secara sosial dianggap tepat, (6) pembentuk anak dalam memecahkan masalah yang dihadapinya dalam rangka menyesuaikan dirinya terhadap kehidupan, (7) pemberi bimbingan dalam belajar keterampilan motorik, verbal dan sosial yang dibutuhkan untuk penyesuaian diri, (8) stimulator bagi pengembangan kemampuan anak untuk mencapai prestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat, (9) pembimbing dalam mengembangkan aspirasi, dan (10) sumber persahabatan/teman bermain bagi anak sampai cukup usia untuk mendapatkan teman di luar rumah.
Hubungan cinta kasih dalam keluarga tidak sebatas perasaan, akan tetapi juga menyangkut pemeliharaan, rasa tanggung jawab, perhatian, pemahaman, respek dan keinginan untuk menumbuh kembangkan anaka yang dicintainya. Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh konflik, atau gap communication dapat mengembangkan masalah-masalah kesehatan mental (mental illness) bagi anak.
Dilihat dari sudut pandang sosiologis, fungsi keluarga ini dapat diklasifikasikan ke dalam fungsi-fungsi berikut :
1. Fungsi Biologis
Keluarga dipandang sebagai pranata sosial yang memberikan legalitas, kesempatan dan kemudahan bagi para anggotanya untuk memenuhi kebutuhan dasar biologisnya. Kebutuhan itu meliputi (a) pangan, sandang, dan pangan, (b) hubungan seksual suami-istri, dan (c) reproduksi atau pengembangan keturunan (keluarga yang dibangun melalui pernikahan merupakan tempat “penyemaaian” bibit-bibit insani yang fitrah).
2. Fungsi Ekonomis
Keluarga (dalam hal ini ayah) mempunyai kewajiban untuk menafkahi anggota keluarganya (istri dan anak). Maksudnya, kewajiban suami memberi makan dan pakaian kepada para istri dengan cara yang ma’ruf (baik). Seseorang (suami) tidak dibebani (dalam memberi nafkah), melainkan menurut kadar kesanggupannya.
3. Fungsi Pendidikan (Edukatif)
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Menurut UU No. 2 tahun 1989 Bab IV Pasal 10 Ayat 4: “Pendidikan Keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan”.
3. Fungsi Sosialisasi
Keluarga merupakan buaian atau penyemaian bagi masyarakat masa depan, dan lingkungan keluarga merupakan factor penentu (determinant factor) yang angat mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang. Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat yang mensosialisasikan nilai-nilai atau peran-peran hidup dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya. Keluarga merupakan lembaga yang mempengaruhi perkembangan kemampuan anak untuk menaati peraturan (disiplin), mau bekerjasama dengan orang lain dan lain-lain.
4. Fungsi Perlindungan
Keluarga berfungsi sebagai pelindung bagi para anggota keluarganya dari gangguan, ancaman atau kondisi yang menimbulkan ketidakyamanan para anggotanya.
5. Fungsi Rekreatif
Keluarga harus diciptakan sebagai lingkungan yang memberikan kenyamanan, keceriaan, kehangatan dan penuh semangat bagi anggotanya.
6. Fungsi Agama (Religius)
Keluarga berfungsi sebagai penanaman nilai-ilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar. Keluarga berkewajiban mengajar, membimbing atau membiasakan anggotanya untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. keluarga dipandang sebagai lingkungan dini yang dibangun oleh orang tua dan orang-orang terdekat. Dalam bentuknya keluarga selalu memiliki kekhasan. Setiap keluarga selalu berbeda dengan keluarga lainnya. Ia dinamis dan memiliki sejarah “perjuangan, nilai-nilai, kebiasaan” yang turun temurun mempengaruhi secara akulturatif (tidak tersadari). Sebagian ahli menyebutnya bahwa pengaruh keluarga amat besar dalam pembentukan pondasi kepribadian anak. Keluarga yang gagal membentuk kepribadian anak biasanya adalah keluaraga yang penuh konflik, tidak bahagia, tidak solid antara nilai dan praktek, serta tidak kuat terhadap nilai-nilai yang rusak.
Sejalan dengan modernitas, sekolah memang berperan sebagai in loco parentis atau mengambil alih peran orang tua. Tetapi institusi sekolah tidak akan mampu mengambil alih seluruh peran orang tua dalam pendidikan anak.
Globalisasi, kalu ditinjau dari dampak cultural dan kemajuan teknologi, merupakan wahana ‘penjajahan’ oleh kultur yang dominan. Nilai-nilai budaya dominan ini yang sebagian besar tidak sesuai dengan timbangan moral Indonesia sudah menembus kamar-kamar dan sekeliling kita. Dalam konteks ini, keluarga bisa dimetafora sebagai sebuah benteng yang mampu menciptakan ‘imunisasi’ bukan ‘sterilisasi’. Pendekatan imunisasi bermakna bahwa anak tetap berperan aktif dalam lingkungan global tetapi pendidikan dalam keluarga memberinya kekebalan terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari globalisasi. Dengan kata lain, putra-putri kita diarahkan untuk secara optimal meraih manfaat dan nilai positif dari globalisasi. Idealnya, kita arahkan mereka untuk menjadi ‘pemain’, bukan ‘penonton’ apalagi ‘obyek’ globalisasi. Sedangkan ‘sterilisasi’ akan berdampak kurang baik bagi pertumbuhan anaka dan bisa menumbuhkan sikap eskapisme dan isolatif.
Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam menumbuh kembangkan fitrah beragama anak.
Menurut Hurlock dalam Syamsu (2001 ; 138) Keluarga merupakan “Training Centre” bagi penanaman nilai-nilai. Pengembangan fitrah atau jiwa beragama anak, seyogianya bersamaan dengan perkembangan kepribadiannya, yaitu sejak lahir bahkan lebih dari itu sejak dalam kandungan.

Pendidikan dalam lingkungan keluarga sebaiknya diberikan sedini mungkin St. Franciscus Xaverius mengatakan: “Give me the children until are seven and anyone may have them afterward”. Sedangkan menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib (RA), seorang sahabat utama Rasulullah Muhammad (SAW), menganjurkan: Ajaklah anak pada usia sejak lahir sampai tujuh tahun bermain, ajarkan anak peraturanatau adab ketika meraka berusia tujuh sampai empat belas tahun, pada usia empat belas sampai dua puluh satu tahun, jadikanlah anak sebagai mitra orang tuanya.
Ketika anak masuk ke sekolah mengikuti pendidikan formal, dasar-dasar karakter anak ini sudah terbentuk. Anak yang sudah memiliki watak yang baik biasanya memiliki achievement motivation yang lebih tinggi karena perpaduan antara intelligence quotient, emotional quotient dan spiritual quotient sudah mulai terformat dengan baik. Disamping itu, hal tersebut bisa pula mengurangi beban sekolah dengan pemahaman bahwa sekolah bisa lebih berfokus pada aspek bagaimana memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengembangkan potensi konigtif, afektif dan motorik.
Pada perkembangan emosi berhubungan dengan seluruh aspek perkembangan anak. Pada perkembangan awal anak, mereka telah menjalin hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya. Kepribadian orang yang terdekat akan mempengaruhi perkembangan baik sosial maupun emosional. Kerjasama dan hubungan dengan teman berkembang sesuai dengan bagaimana pandangan anak terhadap lingkungan sekitarnya.
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan saling berkomunikasi dan bekerja sama.
Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan sebagai perkembangan tingkah laku dalam menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang berlaku di dalam masyarakat di mana anak berada. Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orangtua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial, atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong dan memberikan contoh kepada anaknya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Penutup

Masa anak merupakan periode perkembangan yang cepat dan dapat terjadinya perubahan dalam banyak aspek perkembangan. Pengalaman masa kecil mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan berikutnya.
Pengetahuan tentang perkembangan anak dapat membantu mereka mengembangkan diri dan memecahkan masalah yang dihadapinya dan melalui pemahaman tentang factor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak, dapat diantisipasi tentang berbagai upaya untuk menfasilitasi perkembangan tersebut, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Bagi kebanyakan anak, lingkungan keluarga merupakan lingkungan pengaruh inti, setelah itu sekolah dan kemudian masyarakat. keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak, oleh karena itu kedudukan keluarga dalam pengembangan kepribadian anak sangatlah penting.
Orang tua adalah contoh atau model bagi anak, orang tua mempunyai pengaruh yang sangat kuat bagi anak ini dapat di lihat dari bagaimana orang tua mewariskan cara berpikir kepada anak-anaknya, orang tua juga merupakan mentor pertama bagi anak yang menjalin hubungan dan memberikan kasih sayang secara mendalam, baik positif atau negatif.

DAFTAR RUJUKAN

A. Razak Daruma, dkk. Perkembangan Peserta Didik: Makassar. PT. FIP UNM, 2005.

Fawzia Aswin Hadis, 1993. Gagasan Orang Tua dan Perkembangan Anak: Disertasi. Jakarta. Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

Gunaryadi (2007, 3 Juni). Pendidikan Nasional, Globalisasi, dan Peranan Keluarga, pada: http://www. Geocities.com/~eunike-net.

Idris, Z. dan L. Jamal, 1992. Pengantar Pendidikan: Jakarta. Grasindo.

Hamalik Oemar, 2000. Psikologi Belajar dan Mengajar: Bandung. PT. Sinar Baru Algesindo

Hartono Agung dan Sunarto, 2002. Perkembangan Peserta Didik: Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Nana Syaodih, S. 2000. Landasan Psikologi: Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Soemiarti Patmonodewo, 2000. Pendidikan Anak Prasekolah: Jakarta. PT. Rineka Cipta.

Syamsu Yusuf, 2006. Perkembangan Anak dan Remaja: Bandung. PT. Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar